LinkedIn Resmi Hadirkan Fitur Lapor Konten AI Spam

Update Fitur LinkedlnLinkedIn resmi mengambil langkah baru untuk mengurangi maraknya konten berkualitas rendah yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Platform profesional milik Microsoft tersebut kini menghadirkan fitur “Seems like AI slop” atau “Terlihat seperti konten AI spam”, yang memungkinkan pengguna melaporkan unggahan yang diduga dibuat secara otomatis oleh AI tanpa memberikan nilai atau informasi yang bermanfaat.

Baca Juga : X Ambil Langkah Tegas, Kurangi Monetisasi Konten Clickbait

Kehadiran fitur ini menjadi bagian dari upaya LinkedIn menjaga kualitas percakapan di platformnya. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir, semakin banyak pengguna yang mengeluhkan membanjirnya konten AI yang terasa tidak autentik, berulang, dan minim sudut pandang orisinal.

LinkedIn Ikut Perangi Konten AI Berkualitas Rendah

Fenomena membanjirnya konten AI tidak hanya terjadi di LinkedIn. Berbagai platform digital kini mulai mengambil langkah serupa untuk mengurangi penyebaran konten yang dihasilkan secara otomatis.

Sebagai contoh, platform newsletter Substack baru-baru ini menghadirkan fitur yang membantu pembaca mengetahui apakah sebuah artikel dibuat menggunakan AI. Fitur tersebut dikembangkan melalui kerja sama dengan Pangram, perusahaan yang berfokus pada pendeteksian konten berbasis AI.

Di sisi lain, Pangram juga mengumumkan pendanaan baru senilai US$9 juta untuk mengembangkan teknologi yang mampu mengatasi semakin banyaknya konten AI di internet. Bahkan, masalah ini turut berdampak pada startup baru. Platform Digg misalnya, sempat menghentikan layanan pesaing Reddit yang mereka kembangkan karena kesulitan mengendalikan jumlah bot yang membanjiri situs tersebut.

Sementara itu, perusahaan infrastruktur internet Cloudflare mengungkapkan bahwa lalu lintas bot kini telah melampaui aktivitas pengguna manusia di internet. Menurut Cloudflare, pencapaian tersebut terjadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya, menunjukkan bahwa masalah otomatisasi di internet semakin serius.

LinkedIn Fokus Menjaga Interaksi Tetap Autentik

Melalui unggahan resminya di LinkedIn, Chief Product Officer LinkedIn, Hari Srinivasan, mengakui bahwa konten AI berkualitas rendah kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi platform tersebut.

Menurutnya, LinkedIn dibangun sebagai tempat bagi para profesional untuk terhubung, berbagi pengalaman, ide, serta keahlian berdasarkan perspektif nyata, bukan sekadar menghasilkan konten otomatis dalam jumlah besar.

Karena itu, fitur “Seems like AI slop” hadir sebagai salah satu cara agar komunitas dapat ikut membantu mengidentifikasi konten yang dianggap tidak autentik. Masukan dari pengguna nantinya akan menjadi sinyal tambahan bagi sistem AI LinkedIn untuk semakin akurat dalam mengenali dan mengurangi penyebaran konten semacam ini.

LinkedIn Perkuat Sistem Deteksi Konten AI

Selain menghadirkan tombol pelaporan baru, LinkedIn juga memperkuat sistem keamanan berbasis otomatisasi. Perusahaan mengungkapkan bahwa mereka kini berhasil memblokir ratusan ribu upaya komentar otomatis setiap hari, serta menghentikan jutaan aktivitas otomatis lainnya hanya dalam beberapa bulan terakhir.

LinkedIn juga mulai menerapkan classifier atau sistem klasifikasi baru yang bertugas mendeteksi apakah sebuah unggahan tergolong konten AI berkualitas rendah. Apabila teridentifikasi sebagai AI spam, kemungkinan konten tersebut muncul di rekomendasi pengguna di luar jaringan pertemanan akan semakin kecil.

Dengan kata lain, pengguna masih dapat mengunggah konten menggunakan bantuan AI, namun algoritma LinkedIn akan lebih selektif dalam menampilkan unggahan yang dinilai kurang memberikan nilai tambah kepada komunitas.

Dashboard Baru Beri Masukan untuk Kreator

Menariknya, LinkedIn juga akan menghadirkan notifikasi pribadi melalui dashboard pengguna. Jika banyak orang menganggap suatu unggahan terlihat terlalu bergantung pada AI sehingga terkesan tidak autentik, pemilik akun akan menerima pemberitahuan tersebut secara privat.

Langkah ini bukan ditujukan untuk menghukum kreator, melainkan membantu mereka menghasilkan tulisan yang lebih alami. LinkedIn memahami bahwa banyak pengguna memanfaatkan AI hanya untuk menyempurnakan tata bahasa atau memperbaiki struktur tulisan, bukan sepenuhnya membuat konten secara otomatis.

Fitur Penulisan AI Diganti dengan Proofreading

Sebagai bagian dari perubahan ini, LinkedIn juga memutuskan untuk menghentikan fitur “Enhance Your Post”, yaitu fitur AI yang sebelumnya membantu pengguna menulis ulang isi unggahan.

Sebagai penggantinya, LinkedIn menghadirkan fitur proofreading yang hanya berfungsi memeriksa tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat tanpa mengubah gaya maupun karakter tulisan pengguna. Dengan pendekatan tersebut, LinkedIn berharap setiap unggahan tetap mencerminkan suara dan perspektif asli pemilik akun.

Selain itu, perusahaan juga memperluas akses terhadap fitur verifikasi profil dan halaman, serta menambahkan opsi bagi pengguna untuk memblokir komentar dari halaman perusahaan tertentu yang tidak lagi ingin mereka lihat.

Baca Juga : Facebook Luncurkan Aplikasi AI untuk Bantu Kreator Membuat Konten

Melalui berbagai pembaruan ini, LinkedIn menunjukkan komitmennya dalam menciptakan ekosistem profesional yang lebih sehat, autentik, dan bebas dari banjir konten AI berkualitas rendah yang semakin marak di internet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *