Binance, salah satu bursa cryptocurrency terbesar di dunia, tengah menghadapi insiden keamanan setelah sejumlah pengguna melaporkan adanya dugaan pencurian dana dari dompet kripto milik platform tersebut. Menanggapi laporan ini, Binance mengonfirmasi kepada TechCrunch bahwa pihaknya sedang melakukan investigasi terkait potensi masalah keamanan yang terjadi.
Baca Juga : Google Wallet Tambahkan Fitur Kontrol Keuangan untuk Anak
Dalam pernyataan resmi melalui email kepada TechCrunch, Binance menyebutkan bahwa mereka telah mengetahui laporan mengenai kemungkinan insiden keamanan dan saat ini sedang melakukan penyelidikan secara aktif.
“Pengguna tidak perlu khawatir karena dana mereka sepenuhnya aman,” ungkap Binance dalam pernyataannya.
Perusahaan juga menegaskan bahwa tim keamanan sedang meninjau seluruh informasi yang berkaitan dengan insiden tersebut. Binance berjanji akan menyampaikan perkembangan terbaru melalui saluran komunikasi resmi setelah memperoleh informasi yang telah terverifikasi. Pengguna juga diimbau untuk tetap waspada terhadap penipuan serta tidak mempercayai tautan, pesan, maupun permintaan informasi akun dari sumber tidak resmi.
Juru bicara Binance, Ross O’Leary, mengatakan bahwa perusahaan telah mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara penarikan dana pada beberapa jaringan setelah insiden keamanan terdeteksi.
Binance Hentikan Penarikan Dana di Sejumlah Jaringan
Kabar dugaan peretasan ini muncul beberapa jam setelah pendiri Binance, Changpeng Zhao, mengungkapkan melalui unggahan di platform X bahwa perusahaan kemungkinan telah menjadi korban serangan hacker.
Meski sudah tidak lagi menjalankan operasional perusahaan, Zhao masih menjadi pemegang saham terbesar Binance. Ia memperkirakan bahwa seluruh dana pengguna akan mendapatkan penggantian sepenuhnya, meskipun tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai pernyataan tersebut.
Di sisi lain, perusahaan teknologi keuangan Circle dilaporkan telah membekukan sekitar US$800 juta dalam bentuk Tether yang melewati jaringannya. Sementara itu, perusahaan penerbit stablecoin Tether juga membekukan sekitar US$1,56 miliar yang berkaitan dengan dugaan peretasan Binance.
Sejumlah pengamat cryptocurrency memperkirakan setidaknya US$2 miliar telah terkuras dari hot wallet Binance. Sebagai informasi, hot wallet merupakan dompet cryptocurrency yang terhubung ke internet dan digunakan untuk menyimpan aset digital.
Bahkan, beberapa perkiraan menyebutkan potensi kerugian Binance bisa mencapai lebih dari US$5,7 miliar. Namun, angka tersebut belum dikonfirmasi secara resmi dan masih ada kemungkinan aktivitas pencurian terus berlangsung.
Berpotensi Menjadi Salah Satu Peretasan Kripto Terbesar
Hingga saat ini, belum diketahui siapa pihak yang berada di balik serangan tersebut. Binance juga belum memberikan informasi apakah mereka telah menerima komunikasi atau permintaan tertentu dari pelaku peretasan.
Jika jumlah kerugian yang mencapai miliaran dolar AS tersebut terbukti benar, insiden ini berpotensi menjadi salah satu kasus peretasan cryptocurrency terbesar sepanjang sejarah.
Sebagai perbandingan, pada 2025, hacker berhasil mencuri aset kripto senilai US$1,4 miliar dalam satu serangan terhadap bursa Bybit. Serangan tersebut dikaitkan dengan kelompok hacker asal Korea Utara.
Selain kasus Binance, pada Kamis sebelumnya, platform pasar prediksi Polymarket juga sempat menghentikan aktivitas perdagangan. Keputusan tersebut diambil setelah perusahaan mengonfirmasi adanya kompromi keamanan pada salah satu penyedia pihak ketiga yang menyebabkan penarikan dana harus dihentikan sementara.
Menurut sejumlah peneliti keamanan, pelaku berhasil mencuri sekitar US$2 juta dana pengguna setelah menyusup ke perangkat lunak yang dikembangkan oleh perusahaan bernama DebugBear.
Baca Juga : Ekstensi Chrome Trust Wallet Diretas, Pengguna Alami Kerugian Besar
Rangkaian insiden ini kembali menunjukkan pentingnya keamanan dalam ekosistem cryptocurrency, terutama bagi platform yang menyimpan aset digital dalam jumlah besar.


