Internet sempat menghadapi ancaman serius akibat dua celah keamanan pada PHP, teknologi web open-source yang sudah digunakan selama puluhan tahun. Pada Rabu, dua kerentanan yang selama ini tersembunyi akhirnya diketahui dapat dieksploitasi oleh penyerang. Temuan ini membuat jutaan pengguna dan perusahaan di berbagai belahan dunia harus bergerak cepat untuk mengamankan sistem mereka.
Baca Juga : Celah Keamanan Windows Defender Bisa Picu Serangan DoS
Kedua celah tersebut dikenal dengan nama PHP2Shell, dengan nomor identifikasi resmi CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619. Secara sederhana, kerentanan ini memungkinkan penyerang mengambil alih sistem online yang menjalankan PHP, seperti website atau server yang terhubung ke internet, tanpa perlu memasukkan kata sandi terlebih dahulu.
Situasinya cukup serius. Jika tidak segera diperbaiki, celah ini dapat dimanfaatkan untuk mengakses sistem, menjalankan kode berbahaya, hingga mencuri data penting. Beruntung, pengembang PHP telah merilis pembaruan keamanan untuk mengatasi masalah tersebut.
Namun, bukan berarti ancamannya sudah berakhir. Para peneliti keamanan masih memperingatkan bahwa banyak sistem di seluruh dunia belum mendapatkan pembaruan dan tetap berisiko menjadi sasaran serangan.
Apa yang Sebenarnya Terjadi pada PHP?
PHP merupakan bahasa pemrograman yang banyak digunakan untuk membangun website dan aplikasi berbasis web. Teknologi ini bisa ditemukan pada layanan internet publik maupun jaringan internal perusahaan, seperti intranet dan situs yang hanya dapat diakses oleh karyawan.
Salah satu alasan PHP begitu populer adalah sifatnya yang open-source. Artinya, siapa pun dapat menggunakan, mempelajari, dan mengembangkan teknologi ini secara gratis. Selain itu, PHP telah hadir selama puluhan tahun sehingga menjadi bagian penting dari infrastruktur internet modern.
Masalah bermula ketika peneliti keamanan dari Calif menemukan dua celah pada kode PHP. Kerentanan tersebut sebenarnya sudah diketahui sejak 2024, tetapi pada saat itu belum dianggap dapat dieksploitasi. Karena itu, kedua bug tersebut belum diperbaiki melalui pembaruan keamanan.
Situasinya berubah setelah para peneliti berhasil menemukan cara untuk memanfaatkan celah tersebut. Mereka kemudian menghubungi PHP Foundation, organisasi yang memelihara perangkat lunak PHP, agar perbaikan segera dilakukan.
PHP Foundation selanjutnya menyiapkan pembaruan sekaligus mengatur proses pengungkapan informasi secara terkoordinasi. Sebelum patch dirilis secara publik, sejumlah perusahaan besar dan penyedia layanan hosting yang bergantung pada PHP diberikan akses lebih awal terhadap informasi kerentanan dan perbaikannya.
Langkah ini bertujuan memberikan waktu bagi perusahaan untuk mengamankan sistem mereka sebelum detail kerentanan diketahui secara luas. Setelah pembaruan resmi dirilis pada Rabu, pemerintah di berbagai wilayah mulai mendorong perusahaan dan pemilik website untuk segera mengambil tindakan.
Sejumlah sektor, mulai dari perbankan, ritel, layanan game, toko online, rumah sakit, hingga lembaga pemerintahan, bahkan menonaktifkan sebagian layanan atau server untuk memasang pembaruan dan mengurangi risiko serangan.
Berkat koordinasi tersebut, internet sejauh ini berhasil menghindari gelombang eksploitasi massal yang lebih luas. Meski begitu, sejumlah insiden eksploitasi telah terkonfirmasi sehingga ancaman PHP2Shell masih perlu diwaspadai.
Mengapa Bug PHP2Shell Sangat Berbahaya?
Tidak semua bug pada perangkat lunak memiliki tingkat risiko yang sama. Ada kerentanan yang hanya menyebabkan gangguan kecil, tetapi ada pula yang memungkinkan penyerang mengambil alih sistem dari jarak jauh. PHP2Shell termasuk dalam kategori yang kedua.
Kerentanan ini dapat dieksploitasi melalui internet tanpa mengharuskan korban mengeklik tautan tertentu atau membuka file berbahaya. Dalam dunia keamanan siber, kemampuan menjalankan kode pada sistem target dari jarak jauh dikenal sebagai remote code execution atau RCE.
RCE menjadi salah satu jenis kerentanan yang sangat berbahaya karena dapat memberikan kesempatan kepada penyerang untuk menjalankan perintah pada sistem yang terdampak. Jika sistem tersebut belum diperbarui dan memiliki konfigurasi yang memungkinkan, dampaknya bisa sangat serius.
Risiko PHP2Shell semakin besar karena kedua celah tersebut memungkinkan akses tanpa autentikasi. Dengan kata lain, penyerang tidak perlu memiliki akun, kata sandi, atau kredensial resmi untuk memulai serangan melalui jalur yang rentan.
Setelah berhasil masuk, penyerang dapat mencoba memasang malware, mengambil informasi sensitif, atau mempertahankan akses agar bisa kembali ke sistem tersebut pada kemudian hari.
Bagi perusahaan, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai masalah. Data pelanggan berpotensi dicuri, layanan online bisa terganggu, dan sistem internal dapat digunakan sebagai titik awal untuk menyerang infrastruktur lain.
Itulah sebabnya pembaruan keamanan menjadi langkah yang sangat penting. Semakin lama sebuah sistem dibiarkan menggunakan versi PHP yang rentan, semakin besar pula kesempatan bagi pihak tidak bertanggung jawab untuk mengeksploitasinya.
Mengapa Sekitar 70% Web Terdampak?

Salah satu faktor yang membuat PHP2Shell mendapat perhatian besar adalah popularitas PHP itu sendiri. Bahasa pemrograman ini telah digunakan selama puluhan tahun dan masih menjadi fondasi bagi banyak website di internet.
Diperkirakan sekitar 70% web yang terhubung ke internet bergantung pada PHP. Meskipun penggunaannya perlahan menurun karena sebagian pengembang beralih ke bahasa pemrograman yang lebih baru, PHP tetap memiliki peran penting dalam ekosistem web.
Beberapa platform populer yang menggunakan perangkat lunak berbasis PHP antara lain WordPress, Drupal, Joomla, dan MediaWiki. WordPress, misalnya, menjadi fondasi bagi banyak website, termasuk situs yang digunakan oleh TechCrunch. Sementara itu, MediaWiki merupakan perangkat lunak yang mendukung Wikipedia.
Besarnya jumlah website yang menggunakan PHP membuat satu kerentanan berpotensi menimbulkan dampak yang meluas. Jika sebuah celah dapat dimanfaatkan pada banyak sistem dengan pola yang serupa, penyerang memiliki peluang untuk menargetkan berbagai organisasi sekaligus.
Di sisi lain, PHP hanyalah salah satu contoh teknologi lama yang masih bertahan dan menjadi bagian penting dari internet. Banyak komponen yang dikembangkan puluhan tahun lalu kini digunakan secara luas sehingga sulit diganti dalam waktu singkat.
Masalah lainnya berkaitan dengan pengembangan perangkat lunak open-source. Tidak semua pengelola proyek memiliki sumber daya yang memadai untuk melakukan audit keamanan secara menyeluruh. Sebagian pengembang bahkan mengerjakan proyek tersebut tanpa mendapatkan bayaran.
Ironisnya, perangkat lunak yang mereka pelihara justru digunakan oleh banyak perusahaan besar yang belum tentu memberikan dukungan finansial terhadap pengembangan proyek tersebut.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa keamanan internet tidak hanya bergantung pada perusahaan teknologi besar. Keberlanjutan proyek open-source dan dukungan terhadap para pengembangnya juga memiliki peran penting dalam menjaga keamanan sistem yang digunakan banyak orang.
Apakah AI Digunakan untuk Menemukan Celah Ini?
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut menjadi bagian dari cerita di balik penemuan PHP2Shell.
Peneliti dari Calif menemukan kerentanan tersebut dalam sebuah audit keamanan terhadap kode PHP. Mereka mengikuti inisiatif Hack the Planet yang melibatkan OpenAI sebagai pengembang model AI dan Wiz, perusahaan yang bergerak di bidang keamanan cloud.
Wiz kemudian membantu memverifikasi proof of concept atau PoC, yaitu demonstrasi yang menunjukkan bahwa sebuah kerentanan dapat dieksploitasi.
Dalam penjelasan yang dipublikasikan oleh Calif, para peneliti menyebutkan bahwa AI membantu proses analisis dan eksploitasi kerentanan. Namun, sebagian besar pekerjaan tetap bergantung pada pengetahuan teknis yang sudah mereka miliki, termasuk pemahaman terhadap kode PHP dan riwayat teknik eksploitasi sebelumnya.
Dengan kata lain, AI bukan satu-satunya faktor yang membuat kerentanan ini ditemukan. Keahlian peneliti, pengalaman menganalisis kode, serta pemahaman mengenai cara kerja perangkat lunak tetap menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Calif juga menegaskan bahwa model AI belum mampu menemukan semua bug hanya dengan memberikan instruksi sederhana. Teknologi ini memang dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi bukan berarti seluruh proses audit keamanan bisa diserahkan kepada AI.
Temuan PHP2Shell memperlihatkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam penelitian keamanan siber. Di saat yang sama, perkembangan teknologi ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan ditemukannya lebih banyak kerentanan pada perangkat lunak lama yang selama ini belum terdeteksi.
Mengapa Eksploitasi Terjadi Sebelum Patch Dirilis?
Meski proses pengungkapan PHP2Shell telah diatur secara ketat, terdapat indikasi bahwa kerentanan tersebut sudah dieksploitasi sebelum patch resmi tersedia.
Amazon, yang memiliki visibilitas luas terhadap ancaman online melalui infrastruktur dan layanan cloud-nya, melaporkan telah mendeteksi aktivitas eksploitasi sekitar satu minggu sebelum pembaruan PHP dirilis.
Temuan ini menunjukkan bahwa ada pihak yang kemungkinan sudah mengetahui cara memanfaatkan celah tersebut sebelum detailnya diumumkan kepada publik.
Amazon menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memastikan bagaimana penyerang memperoleh informasi mengenai kerentanan tersebut. Namun, perusahaan menyarankan para pengelola sistem untuk memeriksa kemungkinan adanya aktivitas eksploitasi sejak 17 Oktober.
Ada beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan situasi ini.
Pertama, informasi mengenai kerentanan atau patch mungkin bocor sebelum waktunya. Ketika pembaruan keamanan dirilis, perubahan pada kode dapat membantu pihak lain memahami bagian yang sebelumnya bermasalah, terutama jika perangkat lunak tersebut bersifat open-source dan kode perbaikannya dapat diperiksa secara publik.
Meskipun mengeksploitasi kerentanan tidak selalu mudah, mengetahui bagian kode yang diperbaiki dapat membantu penyerang mempelajari kelemahan sebelumnya dan mengembangkan metode serangan.
Kedua, bisa saja terjadi kebocoran informasi atau gangguan komunikasi selama periode embargo. Proses pengungkapan terkoordinasi melibatkan banyak pihak, sehingga kerahasiaan informasi sangat bergantung pada kepatuhan dan koordinasi seluruh peserta.
Ketiga, penyerang mungkin telah menemukan kerentanan tersebut secara mandiri atau melalui aktivitas spionase sebelum para peneliti mengumumkannya.
PHP Foundation juga menyalahkan sebuah perusahaan yang merilis patch beberapa jam sebelum periode embargo berakhir. Tindakan tersebut berpotensi memberikan keuntungan waktu kepada penyerang yang berhasil mendapatkan informasi pembaruan lebih awal.
Namun, penjelasan itu belum cukup untuk menjawab mengapa Amazon sudah mendeteksi aktivitas eksploitasi sekitar satu minggu sebelumnya.
Para peneliti menilai bahwa mengubah sebuah bug menjadi alat serangan yang benar-benar dapat digunakan membutuhkan banyak pekerjaan. Hal tersebut mungkin menjadi salah satu alasan mengapa eksploitasi massal belum terlihat dalam skala besar.
Meski begitu, pada Jumat malam, Palo Alto Networks dan Trail of Bits telah melaporkan adanya kompromi yang terkonfirmasi serta aktivitas lanjutan setelah eksploitasi. Artinya, kerentanan tersebut sudah terdeteksi digunakan untuk meretas sistem dan menjalankan aktivitas berbahaya pada target yang belum diketahui secara pasti.
Layanan Internet Sempat Ditutup, Apakah Ancaman Sudah Berakhir?
Sejauh ini, belum terlihat indikasi eksploitasi massal yang menunjukkan dampak terburuk dari PHP2Shell telah terjadi. Kondisi tersebut menjadi perkembangan yang cukup menggembirakan, tetapi belum bisa dijadikan alasan untuk mengabaikan ancamannya.
Matthew Prince, CEO Cloudflare, perusahaan yang menyediakan layanan keamanan dan pemantauan jaringan, mengatakan bahwa pihaknya melihat peningkatan upaya eksploitasi secara eksponensial setelah kerentanan tersebut diumumkan.
Lonjakan tersebut memperlihatkan betapa cepatnya pelaku kejahatan siber berusaha memanfaatkan celah keamanan yang baru diketahui publik.
Perlu dipahami bahwa PHP tidak hanya digunakan pada server website. Teknologi ini juga dapat ditemukan dalam berbagai alat pengembangan, paket baris perintah atau terminal, serta komponen perangkat lunak pada router, perangkat penyimpanan, firewall, dan perangkat keamanan perusahaan.
Karena penggunaannya cukup luas, dampak PHP2Shell kemungkinan tidak berhenti pada website yang langsung menjalankan PHP. Produk lain yang mengintegrasikan komponen PHP juga perlu diperiksa dan diperbarui sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Risiko tambahan muncul dari tim IT kecil dan pengembang independen yang mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk menerapkan pembaruan. Perusahaan yang menggunakan PHP sebagai bagian dari produk mereka juga perlu memperbarui perangkat lunak sebelum dapat memastikan seluruh sistem kembali aman.
Seiring semakin banyak perangkat mendapatkan pembaruan, permukaan serangan atau attack surface akan berkurang. Namun, dampak dari kerentanan ini masih mungkin terasa selama bertahun-tahun, terutama pada sistem lama yang sudah tidak memiliki mekanisme pembaruan.
Karena itu, pemilik website dan administrator sistem perlu memastikan versi PHP yang digunakan telah mendapatkan perbaikan keamanan. Mereka juga perlu memeriksa log sistem untuk mencari indikasi aktivitas mencurigakan, khususnya jika server sebelumnya terpapar kerentanan tersebut.
Apakah Insiden Seperti Ini Bisa Terulang?
PHP2Shell menjadi salah satu insiden yang menunjukkan betapa besarnya dampak kerentanan perangkat lunak terhadap internet. Dalam sejarah keamanan siber, ada beberapa kejadian lain yang sempat mengganggu layanan digital dalam skala luas.
Pada 2016, botnet besar membanjiri penyedia layanan DNS Dyn dengan lalu lintas sampah sehingga sejumlah layanan internet populer mengalami gangguan. Pada 2017, Korea Utara menggunakan alat peretasan pemerintah Amerika Serikat yang bocor untuk menyebarkan ransomware ke sistem layanan kesehatan Inggris.
Kemudian, pada 2024, pembaruan CrowdStrike yang bermasalah menyebabkan gangguan global dan membuat banyak komputer Windows mengalami crash secara bersamaan.
Jika dilihat dari dampaknya, internet sejauh ini berhasil menghindari skenario terburuk akibat PHP2Shell. Namun, bukan berarti kejadian serupa tidak akan terulang.
Salah satu penyebabnya adalah masih banyaknya perangkat lunak lama yang digunakan secara luas. Teknologi tersebut mungkin sudah beroperasi selama puluhan tahun, tetapi bukan berarti seluruh kelemahannya telah ditemukan.
Situasi ini dapat semakin kompleks dengan hadirnya AI yang membantu peneliti maupun penyerang menganalisis kode dan mencari celah keamanan dengan lebih cepat.
PHP, seperti sejumlah bahasa pemrograman dan teknologi web generasi sebelumnya, juga memiliki karakteristik yang dikenal sebagai memory unsafe. Istilah ini merujuk pada karakteristik bahasa atau sistem yang memungkinkan terjadinya kelas kerentanan tertentu terkait pengelolaan memori, termasuk kondisi yang dapat menyebabkan kebocoran data sensitif.
Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat atau National Security Agency (NSA) menyebutkan bahwa sekitar 75% kerentanan yang aktif dieksploitasi berkaitan dengan kelemahan pengelolaan memori. Angka ini menunjukkan betapa seringnya masalah tersebut dimanfaatkan dalam serangan siber.
Sebagai respons, industri teknologi semakin mendorong penggunaan bahasa pemrograman yang lebih aman dalam pengelolaan memori, seperti Python, Rust, dan Swift. Bahasa-bahasa tersebut memiliki mekanisme yang dapat mengurangi berbagai jenis risiko terkait memori, meskipun tetap tidak sepenuhnya bebas dari kerentanan keamanan.
Sayangnya, peralihan teknologi tidak bisa dilakukan secara instan. Masih ada banyak sistem yang bergantung pada PHP, codec media dan video, pustaka kompresi, serta komponen perangkat lunak lama lainnya.
Selama teknologi tersebut masih digunakan, celah keamanan yang baru ditemukan berpotensi membawa konsekuensi besar bagi internet.
Baca Juga :Â PowerShell Disalahgunakan Hacker untuk Menginfeksi Korban dengan SmartRAT
Kesimpulan
Insiden PHP2Shell menjadi pengingat bahwa satu kerentanan pada perangkat lunak yang digunakan secara luas dapat mengancam banyak sistem sekaligus. Meskipun PHP Foundation telah merilis patch dan eksploitasi massal sejauh ini belum terkonfirmasi, sejumlah serangan nyata telah terdeteksi.
Bagi pemilik website, administrator server, dan perusahaan yang menggunakan PHP, langkah terpenting adalah segera menerapkan pembaruan keamanan yang sesuai, memeriksa sistem yang terdampak, serta memastikan tidak ada aktivitas mencurigakan setelah kerentanan ditemukan.
Di sisi lain, insiden ini juga menegaskan pentingnya dukungan terhadap proyek open-source, audit keamanan berkala, dan penggunaan teknologi yang memiliki perlindungan memori lebih baik.
Perkembangan AI memang membuka peluang baru untuk meningkatkan keamanan siber, tetapi teknologi yang sama juga berpotensi mempercepat pencarian celah oleh pihak yang berniat jahat.
Internet mungkin berhasil melewati ancaman besar kali ini. Namun, selama infrastruktur digital masih bergantung pada perangkat lunak lama yang belum sepenuhnya aman, upaya memperbarui dan melindungi sistem harus tetap menjadi prioritas.


