Di era aplikasi web modern seperti sekarang, fitur-fitur tambahan sering kali dibuat untuk meningkatkan kenyamanan pengguna. Mulai dari formulir kontak, pendaftaran newsletter, hingga fitur reset password, semuanya terlihat aman dan wajar digunakan sehari-hari. Namun di balik kemudahan tersebut, ternyata ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber jika tidak dikelola dengan benar.
Baca Juga :
Masalahnya, banyak aplikasi web modern tanpa disadari membuka attack surface baru. Secara terpisah, celah-celah ini mungkin tampak sepele dan mudah dikendalikan. Tetapi ketika digabungkan oleh penyerang yang berpengalaman, dampaknya bisa sangat serius dan berujung pada pengambilalihan sistem secara penuh.
Email Masih Jadi Pintu Masuk Favorit Serangan Siber
.webp)
Email hingga saat ini masih menjadi salah satu jalur utama serangan siber. Teknik phishing klasik memang mulai kehilangan efektivitas karena adanya filter email canggih dan sistem autentikasi modern seperti SPF, DKIM, dan DMARC. Namun, penyerang tidak kehabisan akal.
Alih-alih mengirim email palsu dari server asing, para attacker kini memanfaatkan logika bisnis yang sah. Mereka mengeksploitasi endpoint API publik, seperti formulir kontak atau sistem notifikasi otomatis, dengan cara memanipulasi input yang dikirimkan.
Hasilnya cukup berbahaya. Sistem internal perusahaan justru dipaksa mengirimkan email berbahaya ke target. Karena email tersebut berasal dari server resmi organisasi, semua proses autentikasi email akan lolos tanpa hambatan. Pesan pun langsung masuk ke inbox utama korban, bukan ke folder spam.
Teknik ini bekerja dengan memanfaatkan kepercayaan bawaan pada domain organisasi itu sendiri. Bagi pengguna, email tersebut terlihat sepenuhnya sah, padahal isinya sudah dimodifikasi untuk tujuan jahat.
Rantai Serangan yang Semakin Berbahaya
Analis keamanan dari Praetorian mengidentifikasi pola serangan ini dan menemukan bahwa tingkat bahayanya meningkat drastis ketika celah email tersebut digabungkan dengan kerentanan lain, yaitu penanganan error yang tidak aman.
Di banyak lingkungan cloud, layanan internal saling berkomunikasi menggunakan OAuth token. Token ini berfungsi sebagai kunci autentikasi tanpa perlu memasukkan username dan password berulang kali.
Masalah muncul ketika aplikasi menampilkan pesan error yang terlalu detail. Biasanya ini dilakukan untuk kebutuhan debugging saat pengembangan. Namun jika konfigurasi tersebut tetap aktif di lingkungan produksi, dampaknya bisa fatal.
Dengan mengirim permintaan yang sengaja dibuat rusak atau tidak lengkap, sistem bisa menampilkan error response yang berisi stack trace lengkap, termasuk token autentikasi aktif yang seharusnya bersifat rahasia.
Mekanisme Pembajakan Token OAuth
.webp)
Inti teknis dari serangan ini terletak pada penanganan OAuth 2.0 bearer token yang buruk di dalam aplikasi. Token ini biasanya berbentuk JSON Web Token (JWT) dan digunakan oleh layanan untuk berkomunikasi dengan Microsoft Graph API.
Ketika penyerang mengirim payload JSON yang tidak valid ke endpoint API, sistem gagal menangani kesalahan dengan benar. Alih-alih menampilkan pesan error sederhana, aplikasi justru mengirimkan log debugging lengkap ke klien.
Di dalam log tersebut, terdapat JWT aktif yang sedang digunakan oleh sistem. Begitu token ini berhasil diambil, penyerang langsung mendapatkan akses terautentikasi ke sumber daya Microsoft 365 milik organisasi.
Yang membuat situasi semakin berbahaya, akses ini tidak memerlukan kredensial pengguna dan tidak memicu notifikasi login mencurigakan seperti biasanya.
Dampak Akses Token yang Dicuri
Cakupan kerusakan sangat bergantung pada scope token yang berhasil dicuri. Dalam banyak kasus, penyerang dapat:
-
Mengunduh dokumen sensitif dari SharePoint
-
Membaca riwayat chat Microsoft Teams
-
Mengakses dan memodifikasi kalender Outlook
-
Mengambil data internal tanpa terdeteksi
Jika token tersebut memiliki hak akses yang lebih luas, penyerang bahkan bisa bergerak lebih jauh ke infrastruktur Azure organisasi. Dengan memicu error yang sama berulang kali, attacker dapat terus mendapatkan token baru dan mempertahankan akses meskipun token lama sudah kedaluwarsa.
Inilah yang membuat serangan ini sangat sulit dideteksi dan ditangani jika tidak ada pemantauan yang ketat.
Langkah Mitigasi yang Perlu Dilakukan
Untuk meminimalkan risiko serangan seperti ini, tim keamanan perlu menerapkan beberapa langkah penting. Pertama, validasi input yang ketat harus diterapkan pada semua API publik. Endpoint hanya boleh menerima parameter yang benar-benar dibutuhkan.
Kedua, lingkungan produksi wajib dikonfigurasi agar tidak menampilkan pesan error detail. Informasi debugging seharusnya hanya tersedia di lingkungan pengembangan, bukan di sistem yang dapat diakses publik.
Dengan menampilkan error generik dan menyembunyikan detail internal sistem, risiko kebocoran token dan informasi sensitif dapat ditekan secara signifikan.
Baca Juga :
Kasus ini menjadi pengingat bahwa celah kecil sekalipun bisa berubah menjadi ancaman besar ketika digabungkan dengan kerentanan lain. Phishing modern tidak lagi hanya soal email palsu, tetapi juga tentang bagaimana penyerang mengeksploitasi logika aplikasi dan kesalahan konfigurasi.
Bagi organisasi yang menggunakan Microsoft 365 dan layanan cloud lainnya, memahami pola serangan seperti ini adalah langkah awal untuk memperkuat pertahanan. Keamanan bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi juga tentang konfigurasi yang tepat dan disiplin dalam pengelolaan sistem.


