Belakangan ini, Facebook sempat mendapat banyak kritik dari penggunanya. Beberapa orang bahkan menyebut platform tersebut sudah berubah menjadi tempat yang dipenuhi konten AI berkualitas rendah atau yang sering disebut sebagai “AI slop hellscape.” Menanggapi keluhan tersebut, Meta akhirnya memperkenalkan sejumlah fitur baru yang dirancang untuk membantu mendeteksi akun peniru (impersonation).
Baca Juga : Cara Menambah Admin Fanpage Facebook: Tutorial Lengkap!
Tidak hanya itu, Meta juga memperbarui pedoman bagi kreator agar definisi tentang konten orisinal di Facebook menjadi lebih jelas. Langkah ini diharapkan bisa menjaga kualitas konten sekaligus melindungi kreator yang aktif berkarya di platform tersebut.
Upaya Facebook Mengurangi Konten Tidak Orisinal

Sebenarnya, Meta sudah mulai mengambil langkah tegas sejak tahun lalu. Perusahaan ini mengumumkan upaya untuk menekan konten spam dan tidak orisinal, seperti unggahan yang berulang kali menggunakan foto, video, atau teks milik orang lain tanpa perubahan berarti.
Tujuan utamanya cukup jelas: mengangkat konten asli dari para kreator agar lebih mudah ditemukan di feed pengguna. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk mengurangi maraknya konten AI berkualitas rendah yang dinilai merusak pengalaman pengguna di Facebook.
Bagi Facebook, menjaga ekosistem kreator tetap sehat merupakan hal yang sangat penting. Jika konten tidak orisinal dan konten AI yang minim kualitas terus mendominasi, maka kreator bisa kehilangan peluang untuk mendapatkan penghasilan dari karya mereka. Dalam jangka panjang, kondisi ini tentu membuat Facebook tidak lagi menjadi platform pilihan bagi para kreator.
Dampak Positif dari Kebijakan Baru
Menurut Meta, berbagai upaya yang telah dilakukan mulai menunjukkan hasil. Pada paruh kedua tahun 2025, jumlah tayangan serta waktu yang dihabiskan pengguna untuk menonton konten orisinal di Facebook hampir meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Selain itu, Meta juga mengklaim telah membuat kemajuan dalam menghapus akun peniru. Sepanjang tahun lalu saja, perusahaan berhasil menghapus sekitar 20 juta akun yang terindikasi melakukan impersonasi. Bahkan, laporan terkait peniruan terhadap kreator besar juga mengalami penurunan hingga 33 persen.
Fitur Baru untuk Melindungi Kreator
Kini, Facebook sedang menguji peningkatan pada alat perlindungan konten bagi kreator. Melalui fitur ini, kreator bisa mengambil tindakan jika konten Reels mereka ditemukan diunggah ulang oleh akun peniru di berbagai platform Facebook.
Menariknya, kreator dapat menandai konten tersebut melalui dashboard terpusat. Dalam pembaruan mendatang, Meta juga berencana mempermudah proses pelaporan dengan menghadirkan sistem yang memungkinkan kreator mengirim laporan dari satu tempat saja.
Namun, perlu diketahui bahwa alat yang ada saat ini masih berfokus pada pencocokan konten duplikat, bukan pada pendeteksian penggunaan wajah atau identitas kreator secara tidak sah. Artinya, masih ada ruang pengembangan untuk mengatasi masalah ini.
Baca Juga : Facebook Marketplace Kini Gunakan Meta AI untuk Balas Pesan Pembeli
Tantangan AI yang Juga Dihadapi Platform Lain
Meta bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang menghadapi dampak perkembangan AI terhadap komunitasnya. Baru-baru ini, YouTube juga mengumumkan perluasan alat pendeteksi deepfake berbasis AI untuk melindungi politisi, tokoh publik, dan jurnalis.
Di sisi lain, Meta juga memperbarui pedoman konten Facebook agar definisi konten orisinal semakin jelas. Konten yang dianggap orisinal kini mencakup video atau materi yang direkam atau diproduksi langsung oleh kreator, termasuk Reels yang menggabungkan konten lain dengan tambahan analisis, diskusi, atau informasi baru.
Sebaliknya, konten yang hanya melakukan perubahan kecil pada karya orang lain akan dianggap tidak orisinal dan akan diprioritaskan lebih rendah. Misalnya seperti mengunggah ulang video dengan tambahan bingkai atau caption sederhana. Perubahan semacam ini tidak lagi cukup untuk membedakan konten tersebut dari sumber aslinya.


