YouTube Melonggarkan Pedoman Monetisasi Topik Kontroversial, Kreator Bisa Dapat Cuan Lagi?

YouTube Melonggarkan Pedoman Monetisasi Topik Kontroversial, Kreator Bisa Dapat Cuan Lagi?Kabar baik datang untuk para kreator YouTube. Platform berbagi video milik Google ini resmi memperbarui pedoman konten ramah pengiklan (advertiser-friendly content guidelines) yang memungkinkan lebih banyak video bertema sensitif atau kontroversial untuk mendapatkan pendapatan iklan penuh.

Baca Juga : YouTube Tambah Fitur Timer agar Pengguna Berhenti Scroll Shorts Terlalu Lama!

Lewat pembaruan ini, YouTube membuka peluang monetisasi bagi konten yang membahas isu-isu sensitif seperti self-harm, aborsi, bunuh diri, hingga kekerasan domestik dan seksual, selama penyajiannya dilakukan secara tidak vulgar, tidak grafis, dan tidak eksplisit. Dengan kata lain, kreator kini punya ruang lebih luas untuk mengangkat topik-topik berat tanpa harus kehilangan potensi penghasilan.

Apa yang Berubah dari Kebijakan Monetisasi YouTube?

Dalam pengumuman resminya yang dirilis melalui kanal Creator Insider, YouTube menjelaskan bahwa sebelumnya tingkat detail atau cara penyajian konten sensitif tidak terlalu dipertimbangkan dalam menentukan kelayakan iklan. Akibatnya, banyak video—bahkan yang bersifat dramatis atau edukatif—langsung mendapatkan ikon dolar kuning, tanda bahwa video tersebut hanya bisa dimonetisasi secara terbatas.

“Di masa lalu, tingkat detail grafis atau deskriptif tidak dianggap sebagai faktor penting dalam menentukan kelayakan iklan, bahkan untuk konten yang bersifat dramatized,” jelas YouTube.

Namun kini, pendekatannya berubah. Selama konten disajikan dengan narasi yang aman, tidak eksplisit, dan tidak menampilkan adegan ekstrem, video tersebut berpeluang besar mendapatkan ikon dolar hijau alias monetisasi penuh.

Respons atas Masukan Kreator

YouTube menyebut bahwa perubahan ini dilakukan sebagai respons langsung terhadap masukan dari para kreator. Banyak kreator mengeluhkan bahwa pedoman lama terlalu ketat dan justru merugikan konten yang bertujuan menyampaikan cerita sensitif, edukasi, atau pengalaman pribadi.

“Kami melakukan evaluasi lebih dalam dan menemukan bahwa pedoman kami di area ini sudah terlalu restriktif, hingga akhirnya mendemonetisasi konten seperti video dramatized atau topikal,” ungkap YouTube.

Padahal, menurut YouTube, tidak semua topik sensitif otomatis dianggap berbahaya oleh pengiklan. Dalam banyak kasus, pengiklan justru masih nyaman menayangkan iklan mereka di konten yang bersifat fiktif, reflektif, atau pengalaman personal, selama disampaikan secara wajar.

Konten Seperti Apa yang Kini Bisa Dimonetisasi?

Lewat pembaruan ini, YouTube memberikan gambaran lebih jelas soal jenis konten yang kini lebih “ramah” terhadap iklan, antara lain:

  • Cerita fiksi yang menyentuh isu sensitif tanpa adegan grafis

  • Pengalaman pribadi yang menyebut topik sensitif secara singkat

  • Diskusi edukatif atau sosial dengan pendekatan naratif

  • Konten dramatized yang tidak menampilkan detail eksplisit

Selama kreator mampu menjaga kontennya tetap informatif, tidak sensasional, dan tidak menampilkan adegan deskriptif yang berlebihan, maka peluang untuk mendapatkan pendapatan iklan penuh menjadi lebih besar.

Tapi Tidak Semua Topik Ikut Dilonggarkan

Meski terkesan lebih permisif, YouTube menegaskan bahwa tidak semua topik sensitif masuk dalam pembaruan ini. Beberapa isu tetap berada di zona merah dan tidak memenuhi syarat monetisasi penuh, apa pun konteksnya.

Topik yang masih dibatasi antara lain:

  • Kekerasan terhadap anak

  • Perdagangan seks anak

  • Gangguan makan (eating disorders)

Konten yang membahas topik-topik tersebut, baik secara deskriptif maupun dalam bentuk dramatisasi, tetap tidak bisa dimonetisasi. YouTube menilai isu-isu ini memiliki risiko tinggi dan tidak sesuai dengan standar pengiklan.

Sejalan dengan Pelonggaran Moderasi Konten

Langkah ini juga dinilai sejalan dengan pendekatan YouTube yang belakangan mulai melonggarkan pengawasan konten di platformnya. Tahun lalu, YouTube bahkan sempat menginstruksikan moderator untuk tetap membiarkan tayangan yang berpotensi melanggar aturan, selama konten tersebut dianggap memiliki kepentingan publik.

Menurut laporan The New York Times, video-video tersebut mencakup diskusi seputar isu politik, sosial, dan budaya. Perubahan kebijakan ini muncul di tengah tren global di mana platform media sosial mulai mengendurkan moderasi ujaran daring.

Baca Juga : YouTube Akan Perketat Aturan Game Kekerasan dan Judi Mulai November Ini!

Peluang Baru untuk Kreator Konten

Bagi kreator, kebijakan baru ini bisa menjadi angin segar. Konten yang sebelumnya “rawan kuning” kini punya kesempatan lebih besar untuk menghasilkan cuan, tanpa harus mengorbankan pesan atau cerita yang ingin disampaikan.

Namun tetap perlu diingat, kreativitas harus dibarengi kehati-hatian. Cara penyampaian, pilihan kata, visual, hingga konteks cerita tetap menjadi faktor utama dalam penilaian monetisasi.

Dengan pedoman baru ini, YouTube berharap bisa menciptakan ekosistem yang lebih adil—di mana kreator bisa bercerita dengan jujur dan bertanggung jawab, sementara pengiklan tetap merasa aman menayangkan iklan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *