Tiga tahun sejak kemunculannya, Midjourney masih jadi “gold standard” di dunia AI image dan video generation. Meski persaingan makin ketat, startup asal San Francisco ini tetap setia melayani lebih dari 20 juta pengguna termasuk VentureBeat yang rutin memakai Midjourney untuk membuat ilustrasi header artikel mereka.
Baca Juga : Model AI Baru dari OpenAI Resmi Dirilis, Gratis dan Lebih Pintar
Menariknya, ternyata pimpinan Meta induk perusahaan Facebook dan Instagram punya pandangan serupa.
Hari ini, Alexandr Wang, eks pendiri sekaligus CEO Scale AI yang kini menjabat Chief AI Officer Meta dan kepala laboratorium baru bernama Meta Superintelligence Labs (MSL), mengumumkan kerja sama dengan Midjourney. Ini diyakini jadi kolaborasi pertama yang dilakukan Meta dengan startup AI independen di bidang visual.
“Meta akan melisensikan teknologi estetika Midjourney untuk model dan produk masa depan, membawa keindahan bagi miliaran orang,” tulis Wang di X (platform pesaing Threads dan Facebook).
Midjourney, Meta, dan Filosofi “All-in” di AI
Langkah ini bukan sekadar proyek bersama, tapi bagian dari filosofi Meta yang mengusung pendekatan “all-of-the-above” dalam membangun AI tingkat lanjut. Artinya, Meta:
- Merekrut talenta riset kelas dunia,
- Investasi miliaran dolar untuk infrastruktur komputasi,
- Dan menggandeng mitra yang punya keunggulan unik.
Midjourney dinilai berhasil mencetak “prestasi teknis dan estetika sejati.” Dengan kata lain, Meta ingin memanfaatkan sisi kreatif Midjourney untuk melengkapi kekuatan skala dan infrastruktur mereka.
Sebaliknya, bagi Midjourney, kolaborasi ini adalah kesempatan emas melihat teknologinya dipakai di salah satu ekosistem digital terbesar di dunia.
Meski begitu, sang pendiri Midjourney, David Holz, langsung menegaskan lewat postingannya di X: independensi mereka tidak berubah. Midjourney tetap berkomunitas, tanpa investor luar, dan terus menggarap proyek-proyek ambisius untuk membangun apa yang ia sebut sebagai “masa depan yang lebih manusiawi.”
Apa yang Akan Berubah?
Di atas kertas, kolaborasi ini memang masuk akal:
- Meta bawa skala distribusi dan kekuatan komputasi luar biasa.
- Midjourney bawa sisi kreatif yang sudah terasah bertahun-tahun dalam melatih model AI visual.
Hasilnya bisa jadi kombinasi “brute force” dan “design flair” kekuatan besar dan sentuhan estetika yang bisa bikin AI Meta terasa lebih manusiawi, bukan sekadar utilitarian.
Namun, detailnya masih kabur.
- Berapa nilai kontraknya? Belum diumumkan.
- Kapan teknologi Midjourney mulai muncul di produk Meta? Belum jelas.
- Apakah untuk mempercantik chatbot Meta yang sempat menuai kritik?
- Atau untuk menghidupkan dunia VR dan tools kreatif di Instagram serta Facebook?
Untuk sekarang, jawabannya masih abu-abu.
Bagaimana dengan Rencana API Midjourney?
Menariknya, Midjourney sebelumnya sempat membicarakan soal membuka Enterprise API agar perusahaan lain bisa integrasi teknologi visual mereka. Bulan lalu, akun resmi Midjourney di X bahkan membagikan form pendaftaran untuk perusahaan yang tertarik.
Pertanyaannya sekarang: apakah kerja sama eksklusif dengan Meta akan menghentikan rencana API tersebut? Sampai saat ini, form itu masih online, tapi belum ada jawaban pasti dari Holz.
Meta: Reorganisasi Besar-besaran AI
Pengumuman ini datang di tengah restrukturisasi besar-besaran di tubuh Meta. Agustus lalu, perusahaan membentuk Meta Superintelligence Labs, tepat setelah investasi raksasa senilai $14,3 miliar di Scale AI.
Struktur AI di Meta kini dibagi jadi empat jalur utama: riset, training, produk, dan infrastruktur. Wang memimpin tim elit yang direkrut dari OpenAI, Anthropic, hingga Google DeepMind, dengan paket gaji ratusan juta dolar.
Misi utamanya? Menciptakan artificial superintelligence personal untuk setiap pengguna.
Ambisius, tapi juga kontroversial. Ada peneliti di dalam Meta yang merasa tidak nyaman dengan kecepatan perubahan ini, sementara sebagian lain menganggap langkah Wang memang perlu. Yang jelas, Meta sedang bertaruh besar pada AI, dan kesepakatan dengan Midjourney jadi bukti tambahan betapa seriusnya mereka.
Risiko untuk Midjourney
Meski menjanjikan, kolaborasi ini juga punya risiko. Midjourney selama ini dikenal sebagai lab independen, bebas dari investor luar. Bagi sebagian komunitas, kerja sama dengan raksasa teknologi bisa dianggap mengorbankan identitas itu.
Holz sadar akan hal ini, makanya ia langsung menegaskan soal otonomi Midjourney dalam pengumumannya.
Apa yang terjadi selanjutnya bakal sangat tergantung bagaimana kesepakatan ini diterjemahkan ke dalam implementasi nyata.
Baca Juga : OpenAI Aktifkan Kembali GPT-4o Setelah Ramai Protes Pengguna
Yang pasti, lanskap produk AI global baru saja mendapat twist besar. Meta dan Midjourney bergandengan tangan, menggabungkan kekuatan masif dengan sentuhan seni.
Apakah ini akan jadi titik balik AI yang lebih indah dan lebih manusiawi? Kita lihat saja bersama.