OpenAI tengah menyelidiki sejumlah laporan yang menyebutkan bahwa GPT-5.6 Codex secara tidak sengaja menghapus file yang berada di home directory pengguna. Meskipun jumlah kasus yang ditemukan masih sangat sedikit, insiden ini menjadi perhatian karena berpotensi menyebabkan hilangnya data penting apabila model AI diberi akses penuh ke sistem tanpa perlindungan yang memadai.
Baca Juga : Siri AI Baru Kini Bisa Dicoba Semua Pengguna iOS 27 Beta
Menurut OpenAI, kejadian tersebut dilaporkan terjadi ketika Codex dijalankan dengan akses penuh ke filesystem (full filesystem access), tetapi tanpa fitur keamanan seperti sandbox dan auto-review yang berfungsi untuk membatasi serta memeriksa tindakan berisiko sebelum dieksekusi.
Penyebab GPT-5.6 Codex Menghapus Home Directory
Tibo Sottiaux, anggota tim Codex di OpenAI, menjelaskan bahwa masalah ini paling sering muncul saat model menangani temporary directory atau direktori sementara.
Dalam kondisi tersebut, Codex mencoba mengubah variabel lingkungan HOME agar dapat membuat lokasi kerja sementara. Namun, karena terjadi kesalahan interpretasi, model justru mengarahkan proses penghapusan ke direktori $HOME milik pengguna.
Pada sistem operasi berbasis Unix, seperti Linux dan macOS, $HOME merupakan direktori utama pengguna aktif. Di dalamnya biasanya tersimpan berbagai data penting, mulai dari dokumen pribadi, kode sumber proyek, SSH key, kredensial layanan cloud, konfigurasi aplikasi, data browser, hingga file sensitif lainnya.
Jika pada lokasi tersebut dijalankan perintah penghapusan secara rekursif, seluruh isi direktori dapat terhapus dalam waktu singkat. Dampaknya tidak hanya berupa kehilangan data, tetapi juga dapat mengganggu operasional, mempersulit proses pemulihan kredensial, hingga menghentikan aktivitas pengembangan aplikasi.
OpenAI Tegaskan Perilaku Ini Tidak Sesuai Harapan
OpenAI menegaskan bahwa perilaku tersebut bukan merupakan tindakan yang diharapkan, termasuk ketika pengguna dengan sengaja memilih mode akses penuh.
Perusahaan menjelaskan bahwa lingkungan yang terdampak tidak memiliki dua lapisan perlindungan penting, yaitu filesystem sandboxing dan auto-review. Sandbox berfungsi membatasi akses model ke area tertentu pada sistem, sedangkan auto-review akan mengevaluasi setiap tindakan berisiko tinggi dan dapat menolaknya sebelum dijalankan.
Tanpa kedua mekanisme tersebut, model memiliki keleluasaan lebih besar dalam menjalankan perintah pada sistem operasi sehingga risiko kesalahan juga meningkat.
Risiko AI Coding Agent dengan Akses Langsung ke Sistem
Insiden ini juga kembali memunculkan kekhawatiran terkait keamanan AI coding agent yang bekerja secara otonom.
Berbeda dengan fitur pelengkap kode (code completion) tradisional, agen AI modern tidak hanya menghasilkan potongan kode. Teknologi ini juga mampu menjalankan perintah shell, membuat maupun menghapus file, mengubah konfigurasi sistem, hingga berinteraksi langsung dengan lingkungan pengembangan.
Apabila agen AI salah memahami jalur file, variabel shell, atau instruksi dari pengguna, tindakan yang keliru dapat terjadi dalam hitungan detik. Kesalahan sederhana pun berpotensi berubah menjadi insiden serius karena dieksekusi secara otomatis dengan kecepatan tinggi.
Sebelumnya, dokumentasi sistem GPT-5.6 juga telah mencatat bahwa model ini memiliki kecenderungan sedikit lebih tinggi dibandingkan GPT-5.5 untuk melampaui ruang lingkup permintaan pengguna pada tugas agentic coding. Meski demikian, OpenAI menegaskan bahwa tingkat kemunculan masalah tersebut tergolong rendah.
Langkah Mitigasi yang Dilakukan OpenAI
Sebagai tindak lanjut, OpenAI mulai menerapkan sejumlah langkah mitigasi guna mengurangi kemungkinan insiden serupa terjadi di masa mendatang.
Beberapa upaya yang dilakukan antara lain memperbarui sistem pesan bagi developer, memberikan panduan yang lebih kuat mengenai penggunaan mode izin yang lebih aman, serta menambahkan perlindungan tambahan pada tingkat harness.
Selain itu, OpenAI juga berencana merilis laporan post-mortem yang berisi penjelasan lengkap mengenai penyebab insiden, proses investigasi, serta langkah-langkah yang akan diterapkan untuk mencegah kasus serupa terulang kembali.
Rekomendasi Keamanan bagi Developer
OpenAI juga mengingatkan para developer yang menggunakan Codex maupun AI coding agent lainnya agar tidak memberikan akses tanpa batas ke workstation pribadi maupun lingkungan produksi.
Sebagai praktik terbaik, agen AI sebaiknya dijalankan di dalam container, virtual machine, development container, atau direktori proyek yang memiliki ruang lingkup terbatas. Perintah yang bersifat destruktif seperti rm, rmdir, del, penghapusan database, maupun perintah yang dapat membongkar infrastruktur sebaiknya selalu memerlukan persetujuan manual sebelum dijalankan.
Tim keamanan juga disarankan menerapkan prinsip least privilege pada kredensial yang digunakan agen AI, menjaga cadangan data yang tidak dapat diubah (immutable backup) atau disimpan di luar perangkat, memanfaatkan sistem version control, serta memantau log perintah untuk mendeteksi aktivitas filesystem yang tidak biasa.
Persetujuan dari manusia juga menjadi lapisan keamanan yang sangat penting, terutama ketika agen AI akan menjalankan perintah yang menyangkut direktori berskala luas, variabel lingkungan, mounted volume, maupun home directory.
Baca Juga : ChatGPT Kini Bisa Kelola Keuangan dan Terhubung ke Rekening Bank
Meskipun OpenAI menyebut insiden ini sebagai kasus yang sangat jarang terjadi, laporan tersebut kembali mengingatkan bahwa agen AI otonom sebaiknya tidak diberi hak penghapusan tanpa batas terhadap data yang bernilai penting. Langkah pengamanan yang tepat tetap menjadi kunci agar pemanfaatan AI dalam pengembangan perangkat lunak dapat berlangsung secara aman dan terkendali.


