Belakangan ini, Samsung kembali jadi sorotan. Bukan karena fitur kamera atau inovasi layar barunya, tapi karena tuduhan cukup serius: beberapa model Samsung Galaxy seri A dan M disebut-sebut dibekali spyware bawaan yang tidak bisa dihapus oleh pengguna biasa. Masalah ini pertama kali muncul dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA), tempat di mana model Galaxy yang lebih terjangkau memang cukup populer.
Baca Juga : Rahasia Melacak Lokasi Hp Lewat Email Secara Real Time!
Nah, yang dipermasalahkan adalah sebuah software bernama AppCloud. Aplikasi ini dikembangkan oleh IronSource, perusahaan analitik mobile yang sudah cukup dikenal di industri. Namun, berdasarkan sejumlah laporan, AppCloud bukan sekadar bloatware biasa. Aplikasi ini diduga berjalan secara diam-diam, mengumpulkan data pengguna, dan terintegrasi cukup dalam ke sistem operasi Samsung, sehingga sulit sekali untuk dihapus.
Apa sih yang sebenarnya dilakukan AppCloud?
Menurut peneliti keamanan dan pemerhati privasi digital, AppCloud bekerja dengan memantau berbagai aktivitas pengguna — mulai dari lokasi, pola penggunaan aplikasi, hingga informasi perangkat. Yang jadi masalah, pengumpulan data ini berlangsung setelah proses pengaturan awal, tanpa ada permintaan izin lanjutan.
Beberapa pengguna melaporkan bahwa ketika mencoba menghapus aplikasi tersebut, prosesnya selalu gagal. Bahkan kalau sudah berhasil menonaktifkan, AppCloud akan aktif kembali setiap kali ponsel melakukan pembaruan sistem atau factory reset. Dengan kata lain, aplikasi ini menempel sangat kuat di dalam lapisan One UI, sehingga pengguna awam hampir tidak punya cara untuk menyingkirkannya.
Inilah yang akhirnya memunculkan kekhawatiran, terutama di negara-negara seperti Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab — daerah yang memang cukup sensitif terhadap isu privasi dan pengawasan digital.
Bagaimana masalah ini terungkap?
Kasus ini pertama kali dibongkar oleh SMEX, organisasi hak digital yang berbasis di Lebanon. Mereka fokus pada isu-isu privasi di wilayah MENA dan menemukan bahwa keberadaan AppCloud berpotensi membuka pintu bagi pihak ketiga untuk melakukan pengambilan data tanpa izin.
Dalam laporan terbarunya, SMEX menegaskan bahwa sifat aplikasi yang terus aktif meski sudah dinonaktifkan adalah sebuah risiko besar, terutama di kawasan yang punya riwayat penyalahgunaan data oleh pihak berwenang.
Perwakilan SMEX bahkan menyebut,
“Ini bukan sekadar bloatware. Ini adalah alat pengawasan yang dibenamkan langsung ke perangkat.”
SMEX kemudian meminta Samsung untuk segera merilis pembaruan global yang bisa mengatasi masalah ini, serta memberikan penjelasan transparan mengenai jenis data apa saja yang dikirimkan ke IronSource.
Viral di Media Sosial
Setelah laporan SMEX tersebar, media sosial langsung ramai. Ada yang mengklaim bahwa beberapa negara sudah melarang penjualan perangkat Samsung tertentu. Ada pula yang menyebut bahwa ponsel-ponsel ini bisa mengirim data langsung ke pemerintah asing.
Namun, ketika ditelusuri lebih jauh, banyak dari klaim ini ternyata berlebihan. Baik Samsung maupun regulator seperti FCC membantah adanya larangan perangkat. Mereka menyebut rumor-rumor tersebut sebagai misinformasi yang berkembang terlalu cepat di dunia maya.
Tetap saja, fakta bahwa AppCloud berjalan tanpa kontrol jelas dari pengguna sudah cukup untuk memicu kekhawatiran. Apalagi jika menyangkut data pribadi di daerah yang kondisi politiknya tidak stabil.
Respons Samsung Saat Ini
Samsung sendiri belum memberikan jawaban langsung terkait laporan SMEX. Namun, seorang juru bicara perusahaan mengatakan bahwa Samsung tetap berpegang pada standar privasi global dan berkomitmen melindungi data para penggunanya.
Meski begitu, publik masih menunggu klarifikasi yang lebih konkret. Apalagi mengingat skala pengguna Galaxy seri A dan M yang sangat besar, terutama di pasar negara berkembang.
Baca Juga : Spyware Landfall Mengintai Ponsel Samsung Selama Hampir Setahun!
Isu spyware pada HP Samsung Galaxy ini memang belum sepenuhnya terjawab. Yang jelas, AppCloud terbukti sangat sulit dihapus, berjalan di latar belakang, dan memiliki akses terhadap data penting yang semestinya berada di bawah kendali penuh pengguna.
Apakah Samsung akan merilis patch? Atau mungkin memberikan penjelasan resmi yang lebih terbuka? Untuk sekarang, pengguna tampaknya hanya bisa menunggu sembari tetap waspada terhadap aplikasi bawaan yang tidak bisa dikontrol sepenuhnya.


