4 Jenis Diversifikasi Altcoins yang Wajib Diketahui Investor Pemula

4 Jenis Diversifikasi Altcoins yang Wajib Diketahui Investor PemulaKalau kamu sudah lama terjun ke dunia investasi, pasti sering dengar istilah “jangan taruh semua telur di satu keranjang.” Nah, filosofi inilah yang jadi dasar dari diversifikasi.

Baca Juga : Cara Menggunakan Wallet Kripto untuk Pemula: Lengkap, Mudah & Aman

Buat kamu yang masih pemula di crypto, khususnya dalam membeli altcoins, diversifikasi bisa jadi penyelamat dari kesalahan fatal yang sering dilakukan investor baru: terlalu percaya pada satu koin atau satu narasi. Percayalah, saya sudah melihat banyak investor pemula yang nyangkut hanya karena all-in ke satu aset tanpa strategi diversifikasi.

Ingat, pasar crypto bergerak sangat cepat, penuh dengan hype, narasi baru, dan tren yang bisa berubah dalam hitungan minggu. Karena itu, memahami jenis-jenis diversifikasi altcoins akan membantu kamu mengurangi risiko sekaligus membuka peluang profit lebih stabil. Yuk, kita bahas satu per satu.

1. Narrative Diversification

Salah satu strategi yang paling sering saya gunakan adalah narrative diversification. Singkatnya, ini berarti kamu membagi portofolio berdasarkan narasi atau sektor yang berbeda.

Kenapa ini penting? Karena dunia crypto selalu berubah-ubah. Hari ini narasi AI coins bisa jadi primadona, besok bisa digeser oleh narasi DeFi, lalu seminggu kemudian narasi gaming/metaverse yang hype.

Dengan diversifikasi berdasarkan narasi, kalau salah satu sektor tidak perform, portofolio kamu tidak langsung jatuh. Sebagai contoh:

  • 30% di AI/Big Data tokens
  • 30% di DeFi projects
  • 20% di gaming/metaverse
  • 20% di infrastruktur (L1/L2 chains)

Investor pemula sering kali kesulitan melakukan narrative switching (pindah fokus ke narasi lain). Dengan strategi ini, kamu sudah punya cadangan di sektor lain sehingga nggak panik kalau satu sektor mulai melemah.

2. Cap Diversification

Berikutnya ada cap diversification, yaitu strategi membagi portofolio berdasarkan market capitalization: low cap, mid cap, dan large cap.

  • Large cap (seperti Ethereum, Solana, atau BNB) cenderung lebih stabil, risikonya lebih rendah.
  • Mid cap biasanya punya potensi growth lebih tinggi tapi tetap relatif aman.
  • Low cap adalah koin kecil yang kadang bisa memberikan return ratusan persen, tapi risikonya juga luar biasa besar.

Saya pribadi sering menyarankan investor pemula untuk mengalokasikan sebagian besar ke mid & large cap dulu, baru sedikit ke low cap. Misalnya:

  • 50% di large cap
  • 30% di mid cap
  • 20% di low cap

Kenapa ini penting? Karena saat narasi berjalan kencang, sering kali justru low caps yang naik paling cepat. Tapi tanpa kombinasi dengan mid & large cap, portofolio bisa jadi terlalu rapuh.

3. Liquidity Diversification

Nah, ini sering diabaikan oleh investor pemula: likuiditas. Tidak semua altcoins mudah diperjualbelikan dengan harga yang wajar.

  • Likuid coins: biasanya punya spread rendah, volume besar, gampang dijual atau dibeli tanpa pengaruh besar pada harga. Contohnya ETH atau SOL.
  • Illiquid coins: volume kecil, spread tinggi, dan kalau kamu mau exit dalam jumlah besar, bisa bikin harga jatuh.

Diversifikasi berdasarkan likuiditas penting banget untuk perencanaan exit strategy. Jangan sampai portofolio kamu penuh dengan koin illiquid yang akhirnya bikin kamu “nyangkut abadi.”

Saya biasanya membagi porsi dengan menaruh sebagian besar dana di koin likuid, lalu sebagian kecil di koin illiquid yang berpotensi multibagger.

4. Time Diversification

Crypto market itu bergerak super cepat. Satu bulan bisa terasa seperti satu tahun. Karena itu, selain diversifikasi aset, penting juga melakukan time diversification alias membagi waktu entry.

Contohnya, kamu tidak harus langsung masuk dengan semua modal di hari pertama. Bagi menjadi beberapa entry point, misalnya dollar-cost averaging (DCA) mingguan atau bulanan.

Tapi, ada juga situasi di mana terlalu lama menunda bisa bikin kamu ketinggalan momentum. Misalnya, kalau kamu yakin sebuah narasi sedang hot dan sudah konfirmasi tren naik, jangan terlalu lama DCA selesaikan akumulasi lebih cepat, misalnya dalam 1–2 bulan pertama.

Sebagai trader berpengalaman, saya biasanya mengombinasikan DCA dengan momentum analysis. Jadi, saya tidak hanya membagi waktu entry secara rutin, tapi juga memperhatikan kapan market sedang oversold atau ada signal reversal.

Baca Juga : 4 Cara Mengurangi Risiko Saat Beli Altcoins Bagi Pemula

Kesimpulan

Diversifikasi altcoins bukan sekadar teori atau “aturan textbook.” Ini adalah seni menjaga keseimbangan antara risiko dan peluang.

  • Narrative diversification menjaga portofolio dari perubahan tren.
  • Cap diversification membantu mengatur risiko berdasarkan kapitalisasi pasar.
  • Liquidity diversification memastikan kamu bisa keluar-masuk dengan aman.
  • Time diversification membuat entry lebih terukur dan mengurangi risiko salah timing.

Sebagai penutup, saya ingin menekankan satu hal: diversifikasi bukan berarti menghindari risiko sepenuhnya. Crypto tetaplah aset berisiko tinggi, tapi dengan diversifikasi yang tepat, kamu bisa mengontrol risiko itu dan memberi ruang lebih luas bagi peluang profit.

Jadi, kalau kamu masih pemula, jangan buru-buru all-in ke satu altcoin hanya karena hype. Ingat, strategi cerdaslah yang akan membuatmu bertahan lama di market crypto, bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *