Microsoft Copilot Personal ternyata memiliki celah keamanan serius yang bisa dimanfaatkan untuk mencuri informasi sensitif dari akun yang terhubung. Kerentanan yang dilacak sebagai CVE-2026-24301 dan dijuluki CoSnitch ini memungkinkan penyerang mengambil data korban hanya melalui satu klik pada tautan berbahaya.
Baca Juga : Microsoft Resmi Rilis Group Policy untuk Hapus Copilot di Windows 11
Celah tersebut ditemukan oleh Varonis Threat Labs dan telah diperbaiki Microsoft pada 18 Agustus 2026. Namun, cara peneliti menemukan celah ini juga menjadi bagian menarik dari kasus tersebut.
CoSnitch merupakan kerentanan Copilot ketiga yang ditemukan Varonis sepanjang tahun ini. Sebelumnya ada Reprompt, yang dapat melewati sistem pengamanan Copilot hanya dengan mengajukan pertanyaan yang sama dua kali, serta SearchLeak yang mengubah Microsoft 365 Copilot Enterprise menjadi saluran tersembunyi untuk mengeluarkan data.
Ketiga serangan tersebut memiliki pola yang mirip. Penyerang hanya membutuhkan satu klik pada tautan yang terlihat seperti tautan biasa untuk memulai rangkaian serangan, tanpa memberikan tanda peringatan yang jelas kepada korban maupun tim keamanan.
Microsoft Copilot CoSnitch Vulnerability

Kerentanan CoSnitch sebenarnya berasal dari tiga kelemahan berbeda yang dapat bekerja secara berurutan. Pertama, terdapat parameter URL yang tidak terdokumentasi. Jika digabungkan dengan parameter standar Copilot “?q=”, parameter tersebut memungkinkan prompt buatan penyerang dijalankan secara otomatis ketika browser korban membuka halaman.
Dengan begitu, korban tidak perlu melakukan klik tambahan, menekan tombol, atau memberikan konfirmasi apa pun. Prompt tersebut langsung dijalankan oleh Copilot.
Kedua, setelah prompt aktif, Copilot dapat meminta informasi dari aplikasi yang terhubung dengan akun korban, seperti Gmail, Google Drive, dan Calendar. Data yang diperoleh kemudian dapat dikirim secara diam-diam ke server yang dikendalikan penyerang menggunakan fitur pengambilan URL bawaan Copilot.
Yang membuatnya semakin sulit dideteksi adalah data yang dicuri dikodekan menggunakan base64 dan dikirim melalui permintaan web keluar seperti aktivitas browsing biasa. Akibatnya, sistem keamanan dapat kesulitan membedakan aktivitas tersebut dari penggunaan Copilot yang normal.
Kelemahan ketiga juga tidak kalah mengkhawatirkan. Sebuah halaman web yang telah dimodifikasi dapat dirangkum oleh Copilot dengan cara yang menyisipkan instruksi tersembunyi ke dalam memori permanen asisten.
Memori yang telah diracuni tersebut bahkan dapat tetap bertahan setelah pengguna mengganti password, mencabut sesi, maupun melakukan pendaftaran ulang perangkat. Artinya, langkah penanganan insiden standar belum tentu cukup untuk menghapusnya.
Varonis Menemukan Celah dengan Meta-Hacking
Hal menarik lainnya datang dari metode yang digunakan Varonis untuk menemukan CoSnitch. Peneliti tidak melakukan reverse engineering terhadap kode Copilot. Sebaliknya, mereka berulang kali bertanya kepada Copilot mengapa eksekusi otomatis dianggap tidak mungkin dilakukan.
Setiap penolakan dari Copilot kemudian digunakan sebagai pertanyaan lanjutan. Dari penjelasan yang diberikan Copilot, peneliti secara bertahap mendapatkan gambaran mengenai arsitektur internal sistem hingga menemukan parameter URL yang sebelumnya tidak terdokumentasi.
Varonis menyebut teknik tersebut sebagai meta-hacking, yaitu memanfaatkan proses penalaran AI untuk menemukan cara mengeksploitasi sistem, bukan langsung menyerang kode di baliknya.
Varonis telah melaporkan CoSnitch kepada Microsoft pada Desember 2025. Perusahaan juga mengatakan tidak menemukan bukti bahwa kerentanan tersebut telah aktif dieksploitasi sebelum pembaruan keamanan dirilis.
Meski sudah diperbaiki, kasus ini menunjukkan tantangan baru bagi keamanan digital. Ketika AI memiliki akses yang semakin luas ke email, file, kalender, dan riwayat percakapan, satu tautan berbahaya saja berpotensi menjadi pintu masuk untuk mengambil banyak data sensitif melalui aktivitas yang terlihat normal.
Karena itu, tim keamanan disarankan untuk memeriksa kembali aplikasi pihak ketiga yang masih terhubung dengan Copilot. Asisten AI juga perlu diperlakukan seperti pengguna dengan hak akses tinggi, sehingga aksesnya harus diawasi secara ketat.
Baca Juga : Kerentanan Microsoft 365 Copilot Ancam Informasi Rahasia Pengguna
Selain itu, organisasi perlu memastikan sistem pemantauan keamanan mereka mampu mendeteksi aktivitas akses data yang tidak biasa dari AI assistant. Sebab, celah dalam pemantauan aktivitas AI bisa menjadi blind spot baru yang belum disadari banyak perusahaan.


